Search

Jumat, 23 Mei 2014

Ikhlas, Kunci Sukses



“Jadi ikhlas memang perlu dilatih, di mana saja, kapan saja, dan dalam kondisi bagaimanapun juga, sejak matahari terbit hingga terbenamnya.”
Berbuat ikhlas ternyata tidak semudah membalik telapak tangan, juga tidak segampang mengatakannya. Langkah pertamanya perlu perjuangan dan latihan demi latihan yang memakan waktu lumayan panjang. Selanjutnya dituntut juga kesabaran. Proses menuju kesana perlu kesungguhan yang cukup ekstra. Pada kesempatan lain ia memerlukan juga pengorbanan-pengorbanan, baik pengorbanan rasa, fisik, maupun mental.
Namun manusia memang mempunyai segudang alasanuntuk menutupi alibi minus ruhaninya dengan berpendapat bahwa sikap ikhlas tidaklah penting bagi nasib amalnyakelak di kemudian hari. Ada-ada saja dalil dan dalih yang dipergunakan untuk menangkis dan menutupi tingkah yang terkesan serba terpaksa, serba mengekor dan ikut-ikutan. Ikhlas tidak ikhlas yang penting ibadah jalan terus, ikhlas tidak ikhlas dalam perjuangan toh sama saja nilainya, itulah di antara contohnya. Dalil itu selalu keluar dari celah mulutnya sebagai pendukung argumentasinya, dan masih banyak lagi contoh lain yang gampang sekali dicari sendiri, baik yang terjadi di sekitar rumah kita, tetangga, dan sebagainya.
Padahal ada beberapa masalah yang dapat timbul sebagai akibat dari sikap yang tidak tulus itu. Ketidaktulusan dalam beramal akan membawa dampak yang buruk baik dari fisik maupun psykhis. Pengaruh jelek dan berdampak nyata adalah bentuk kerja yang menampilkan hasil yang semrawut, acak-acakan, menimbulkan kesan tidak sedap dipandang maupun didengar. Apa yang dilakukan hanya semacam kompensasi dari cermin batinnya yang sedang dilanda kegersangan. Sementara bagi pyskhis, kita dapat merasakan betapa tidak ikhlas itu sangat menyiksa baik bagi diri pribadi maupun bagi lingkungan sekitar. 

Hal lain sebagai dampak yang dapat ditimbulkannya adalah sebagai berikut:

Mudah Tersinggung
            Orang yang tidak ikhlas akan mudah tersinggung hanya karena masalah-masalah yang sesungguhnya sangatlah sederhana. Tidak ditegur saja oleh karena unsur ketidaksengajaan dianggapnya sudah meremehkan harga dirinya, disetarakan sebagai suatu penghinaan dan sikap merendahkan. Tidak diundang saja, karena lupa, berbagai sumpah serapah dilontarkan dengan nada yang sangat menyakitkan telinga. Tersenggol sedikit saja dianggap sebagai tantangan untuk diajak berduel dan seterusnya.
            Dalam rotasi perjuangan menegakkan kalimat Allah kejadian seperti ini bak racun yang berpenampilan madu. Terlihat biasa-biasa saja dari luarnya, tanpa gelombang protes, akan tetapi pada saat yang bersamaan teru-menerus menyebarkan angin kebusukan ke sana-ke mari tanpa berhenti. Segala yang tidak sesuai dengan detak hati dan keinginan dirinya dianggapnya sebagai ancaman. Di manapun tiada waktu tanpa kedongkolan, setiap kali dan pada kesempatan yang ada tiada sikap yang ditunjukkan selain sebagai cermin unjuk rasa diri pribadinya.
            Allah SWT. telah memrhatikan kepada kita untuk menerapkan pentingnya bersifat ikhlas dalam ber-Islam.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan (mengikhlaskan) ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus. Dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
            Tentu saja bagaimana pun alasannya sikap menghibur diri semacam inilah hanyalah akan merusak hubungan baik manusia, di mata Allah. Dia yang secara tegas memberikan pengertian semacam itu teramat mengetahui dampak yang akan muncul akibat dari perilaku manusia yang serba terpaksa dalam ber-Islam.

Semangat mudah kendor
            Di lain keterangan Rasulullah SAW. menjelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “’Agama ialah keikhlasan, kesetiaan dan loyalitas.’ Kami bertanya ‘Loyalitas kepada siapa ya Rasulullah?’ Rasulullah SAW. menjawab, ‘Kepada Allah, kepada kitabnya (Al-Quran), kepada Rasul-Nya, kepada penguasa muslim dan kepada rakyar awam.’”
            Sementara dalam hadits qudsi sijelaskan, “Kelak pada hari kiamat akan didatangkan beberapa buku yang telah disegel (catatan Raqib dan Atid) lalu dihadapkan kepada Allah SWT. (Pada waktu itu) Allah berfirman, ‘Buanglah ini semua.’ Malaikat berkata, ‘Demi kekuasaan Engkau, kami tidak melihat di dalamnya melainkan yang baik-baik saja.’ Selanjutnya Allah berfirman, ‘Sesungguhnya isinya ini dilakukan bukan karena Aku, dan Aku sesungguhnya tidak akan menerima kecuali apa-apa yang dilakukan selain mencari keridhaan-Ku’”
            Ikhlas memang menduduki kedudukan yang utama dalam daftar amalan kita. Karenanya betapapun besarnya tabungan amal kita tanpa diiringi dengan keikhlasan ia akan gugur. Ibarat debu yang bertumpuk-tumpuk di atas genting yang kering, yang akan lenyap disapu oleh air hujan yang menyiramnya hanya beberapa menit saja. Atau ibarat dedaunan kering yang tak punya ikatan lagi dengan induk pohonnya, tidak ada pijakan dan wadah penguat yang menjamin kelanggengannya, sehingga gampang lepas dan rusak, amalannya dapat terbang lenyap dan hilang oleh karenanya.
            Selanjutnya ketidak-ikhlasan akan melahirkan sekelompok manusia pencuri muka, pengambil hati untuk kepentingan sendiri. Semua yang dilakukannya bukan karena lillahi ta’ala semata. Tapi istilahnay menendang kanan untuk mendapat yang kiri, melakukan kebaikan untuk menggapai pujian, agar orang yang dibidiknya menjadi terpikat, agar bos dan pimpinannya senang dan mengakui keunggulannya.
            Jadi ikhlas memang perlu dilatih. Jangka waktu itu tidak bisa ditentukan, umurnya juga tidak terbatas, di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi bagaimanapun juga. Itulah sebabnya di sana kita dianjurkan untuk terus-menerus belajar semenjak dari ayunan hingga ke liang lahat. Dari matahari terbit sampai terbenamnya. Seperti yang dijelaskan Rasulullah SAW. dalam haditsnya, “Uthlubuln’ilmi minal Mahdi ilal-lahdi.” Sudah barang tentu hal ini menyangkut belajar berikhlas.


sumber: buletin jumat Al-Qolam edisi 6 Januari 1995

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Slide Kami