Search

Minggu, 29 Juli 2012

Inilah Cara Mudah Ikuti Tren Berhijab

REPUBLIKA.CO.ID, Dunia mode berhijab Tanah Air rasanya tak ketinggalan dengan gaya berbusana di belahan dunia lainnya. Gaya baru selalu kelihatan. Beragam gaya berhijab serta padu padan busananya tentu menjadi kabar gembira bagi Muslimah yang tidak mau ketinggalan tren.

Kemunculan para tutor dan maraknya kelas berhijab mendorong lahirnya aneka kreasi busana Muslim serta aksesori pendukungnya. Ikut tren hijab bukan lantas berarti menjadi korban mode. Desainer label busana Muslim KIVITZ, Fitri Aulia, mengatakan, gaya dalam berhijab sebaiknya jangan sekadar ingin ikut tren. Dalam acara pembukaan MUSE 101 atau toko yang menampung sejumlah label busana Muslim di pusat perbelanjaan FX, Jakarta Selatan, Fitri berujar, tren itu tetap harus disesuaikan dengan banyak faktor. Seperti, bentuk muka, warna baju, dan riasan.

Manusia terlahir dengan bentuk muka yang berbeda-beda. Ada yang oval, persegi, atau bulat. Salah pilih gaya kreasi hijab justru membuat bentuk muka terlihat kurang proporsional. Misalnya saja, kreasi turban. Hijab ini biasanya kurang cocok untuk mereka yang bermuka persegi.

Turban akan semakin mempertegas bentuk rahang. Mereka yang berwajah bulat disarankan Fitri memilih susunan jilbab yang dekat dengan rahang. “Pintar-pintar mainkan jilbabnya, geser sedikit saja pengaruhnya bisa besar,” saran Fitri. Untuk mereka yang gemar coba-coba, sedia kan aneka dalaman untuk penunjang gaya. Ciput, ninja, dan bandana dengan berbagai motif dan warna dengan mudahnya tersedia di pasaran. Salah memilih dalaman bisa mengurangi penampilan berhijab.

Bagaimana dengan pemilihan warna hijab? Desainer label busana Muslim KIVITZ, Fitri Aulia, mengatakan, pemilihan warna yang senada memang perlu, tetapi jangan sampai membatasi.
Trik yang paling gampang adalah memilih hijab dengan melihat ornamen warna pada satu baju atau sebaliknya. Warna hijab cukup menyesuaikan dengan salah satu warna atau dua warna yang ada dalam pakaian. Contohnya, bajunya berornamen bunga warna hitam, putih, dan kuning. Maka, pilih hijab dalam warna hitam atau putih atau kuning. Senada bukan?

Busana Muslim sebaiknya juga tampil sederhana, tidak terlalu mencolok. Perlu juga kete rampilan memilih aksesori yang tepat. Jika motif hijab sudah berwarna terang, sebaiknya pilih aksesoris yang redup. Hitam selalu menjadi pilihan aman. “Apa pun gaya hijabnya, harus terlihat apa yang ingin dijadikan fokus. Harus punya fashion statement,” tambah Fitri. Riasan wajah pun tak kalah penting. Sebisa mungkin jangan tabrakkan warna riasan dengan warna jilbab.

Terakhir, jangan lupakan pakem berhijab. Fitri mengatakan, menutup diri sama dengan memakai busana sesuai syariat. Bagian sikut, leher, dan kaki harus benar-benar tertutup sama seperti kepala. “Ingat kembali syariatnya. Jangan sampai jadi korban tren.”





Sumber: http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/


Sabtu, 28 Juli 2012

Muslim Komoro, Tak Lekang Dibelenggu Penjajahan

REPUBLIKA.CO.ID, Menjadi kecil kadang terlupakan. Sebagaimana sebuah negara kepulauan yang terletak di lepas Pantai Mozambik, Afrika Tenggara, yakni Kepulauan Komoro.

Secara bahasa, nama Komoro memang merujuk pada sesuatu yang kecil. Ia berasal dari bahasa Arab, Juzur Al-Qamar, yang berarti Pulau Bulan Kecil.

Nah, ukurannya yang kecil membuat tak banyak Muslim dunia yang tahu jika 98 persen penduduk negeri ini beragama Islam.

Di Afrika, umat Islam mungkin mengenal Mesir, namun tidak Komoro. Padahal, negara ini jelas-jelas melabelkan dirinya sebagai negara Islam dengan identitas Federal Islamic Republic of Comoros.

Islam memang memiliki sejarah yang tua di kepulauan ini. Agama Allah dibawa ke kepulauan ini sejak zaman Nabi Muhammad SAW oleh dua orang Komoro, yaitu Fey Bedja Mwamba dan Mtswa Mwandze.

Mereka kembali ke Komoro setelah melakukan perjalanan ke Tanah Suci Makkah. Bukti sejarah juga menunjukkan bahwa pedagang Arab dan seorang pangeran Persia dari Shiraz turut berjasa menghadirkan khazanah Islam di Komoro.

Di negara kepulauan ini, Islam diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan pemerintahan. Meski sempat mengalami dua kali penjajahan oleh negara Eropa, yaitu Prancis dan Portugal, akar Islam di negara ini tidak tercabut.

Selama masa kolonisasi pada 1832, Prancis tidak berusaha meminggirkan praktik-praktik Islam di kalangan warga dan penguasa setempat.

Pada 6 Juli 1975, Komoro memproklamasikan kemerdekaannya dari Prancis. Sejak saat itu, rakyat Komoro sepakat mendirikan negara Islam. Pascakemerdekaan, kondisi ekonomi dan politik Komoro tidak stabil sehingga penerapan HAM dan keadilan sosial tak sepenuhnya berjalan. 

Meski demikian, Komoro tak absen dalam membantu mengatasi masalah internasional terkait Islam di dunia. Padahal, saat itu negeri ini belum bergabung dengan Liga Arab.

Komoro, misalnya, ikut dalam menyelesaikan konflik di Jalur Gaza, Palestina. Ketika Israel melakukan serangan brutal atas Gaza, Komoro adalah satu dari sekian negara yang hadir dalam konferensi di Doha dan memprotes keras Israel. Komoro juga aktif berhubungan dengan negara-negara Islam lainnya.

Masjid Jumat atau Masjid Putih di Kota Moroni, Komoro

Rayakan hari besar Islam
Di dalam negeri, umat Islam di Komoro secara sungguh-sungguh mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menggelar dan mengikuti perayaan hari besar Islam seperti Idul Adha, Muharam, Asyura, Maulid Nabi, dan Isra Mikraj, secara meriah.

Saat Maulid, orang-orang Komoro biasanya menggelar pesta cukup meriah yang dihadiri oleh para ulama besar.

Hal lain yang menarik adalah keberadaan sekitar 1.400 masjid di seluruh pulau di wilayah Komoro yang luasnya hanya sekitar 1.800 kilometer persegi. Di antara masjid-masjid itu dibangun oleh para pedagang Arab sebagai bagian dari asimilasi budaya Islam dan Afrika.

Hassan Ibnu Issa yang mengklaim dirinya sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW mendorong dilakukannya konservasi terhadap masjid-masjid tersebut. Masjid-masjid di Komoro merepresentasikan bakat seni yang dimiliki warga setempat. Kaum laki-laki menekuni seni ukir kayu, sedangkan kaum wanitanya banyak yang berprofesi sebagai penjahit.

Pada 1998, sebuah masjid terbesar di negara itu dibangun oleh seorang Muslim kaya raya. Namanya Masjid Moroni, yang kini menjadi salah satu objek wisata religi di Komoro. Bahkan, para ulama dan pendiri aliran tarekat kerap datang berkunjung ke tempat ini.


Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/

Jumat, 27 Juli 2012

Beginilah Mereka Menghancurkan Kita

 Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.
Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.
Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.
Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.
“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.
Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”
“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”
“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.
Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.
Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.
“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”
“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”
“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”
Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.
***
Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:
“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).
Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?
Sumber:-Note From Brother Asep Juju- Arrahmah.com- muslimazone.com
Sumber gambar: (anna/muslimazone.com)


Sumber: http://fsldk.org

Subhanallah, Dai Ini Islamkan Ribuan Warga Filipina

Omar Penalber, nama pria ini. Ia masuk Islam 24 tahun silam. "Saya telah memilih agama yang tepat," katanya usai mengikrarkan dua kalimat syahadat, menegaskan bahwa dirinya telah berpikir panjang atas putusannya masuk Islam.

 Hebatnya, Omar tak puas hanya dengan sekedar masuk Islam. Pria ini pun belajar mendalami Islam dan berkomitmen menjadi dai. Kini, ia telah mengislamkan ribuan warga Filipina sejak tahun 2010 lalu.

 Omar mengatakan, sejak menjadi muslim ia terdorong untuk ambil bagian dalam dakwah Islam. Ia ingin agar warga Filipina lainnya juga merasakan indahnya Islam dan mendapatkan manisnya hidayah.

 "Saya ingin menginspirasi mereka pada ajaran Rasulullah SAW, guna mempersiapkan diri menggapai surga yang dijanjikan," tekadnya.

 Untuk bisa masuk surga, tambah Omar, setiap muslim harus melaksanakan ajaran Islam secara kaffah.

 "Islam adalah agama yang benar. Saya sarankan kepada mereka untuk tidak ragu menerima Islam," tambahnya.

 Demi mencapai cita-citanya menjadi dai, Omar pun belajar ke Timur Tengah. Di sana ia belajar Islam dan berupaya mengamalkannya secara kaffah. Sekembalinya dari Timur Tengah pada 2007, Omar aktif mendakwahi masyarakat Filipina. Ia menyampaikan bahwa menjadi muslim sangat mudah, masuk Islam tidak susah.

 "Begitu mudah menjadi muslim. Usai membenarkan Islam, lalu mengucapkan dua kalimat syahadat. Selanjutnya, muslim diwajibkan mematuhi empat rukun Islam lainnya seperti shalat, puasa, zakat dan pergi haji," kata Omar.

 Dengan izin Allah, warga Filipina berbondong-bondong menyambut seruan Omar. Tercatat, ribuan warga negara tujuan wisata di Asia Tenggara itu masuk Islam sejak tahun 2010 melalui dakwah Omar. [AM/Rpb]


Sumber: http://www.bersamadakwah.com/2012/07/subhanallah-dai-ini-islamkan-ribuan.html

Pekerja Checnya Pakai Busana Muslim Tiap Jumat

REPUBLIKA.CO.ID, GROZNY--Pemerintah Chechnya meminta pekerja untuk mengenakan busana muslim setiap hari Jumat. Ketetapan itu berlaku mulai Jumat pekan depan.
Juru bicara pemerintah, Magomed Selimkhanov mengatakan pemerintah merekomendasikan pekerja laki-laki agar mengenakan jas dan dasi, sementara perempuan mengenakan rok dibawah lutut dan penutup kepala, berupa jilbab atau kerudung.
"Rekomendasi ini merupakan imbauan pemerintah," papar dia seperti dikutip reuters.com, Senin (9/7).
Sebelumnya, Presiden Chechnya Ramza Kadyrov mengeluarkan imbauan serupa khususnya kepada kalangan perempuan agar mengenakan jilbab ketika memasuki gedung pemerintah. Namun, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), menuduh kebijakan Kadyrov merupakan pemaksaan dan melanggar hak asasi warga negara.
"Imbauan mengenakan busana muslim merupakan paksaan. Seharusnya tidak seperti itu. Tapi Chechnya hal itu terjadi," papar Ketua Komite Nasional HAM Chechnya, Ruslan Badalov.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/

Virus Merah Jambu


REPUBLIKA.CO.ID,  Istilah virus merah jambu saya ketahui dari sahabat saya ustaz Dadan. Dalam sebuah acara talk show di televisi, beliau berseloroh bahwa anak-anak muda itu jika sedang kasmaran disebutnya terkena virus merah jambu.

Karena warna yang melambangkan hati yang kasmaran itu warnanya pink atau merah jambu. Berbicara tentang virus merah jambu, berbicara tentang warna pink, berarti berbicara mengenai permasalahan kasmaran atau lebih tepat lagi cinta. Menarik, mari kita segera bicara cinta.

Cinta menjadi sumber inspirasi seniman sepanjang zaman. Dari mulai karya romeo dan Juliet, kahlil Gibran dan may ziadah, layla majnun, siti nurbaya, Hercules dan Delilah, Julius Caecar - Cleopatra, sampai kisah sobat saya Asih dan Ista, Satria-Aci, atau Maslardi dan Mbak Imah pun jika dibahas tak kalah menariknya.

Cerita cinta seakan-akan tak pernah habis tertuang dalam kata-kata, lukisan maupun nada-nada. Sangatlah sulit mendefinisikan cinta Picasso dengan lukisannya ,atau moonlight sonatanya Beethoven, bahkan surat cinta kahlil Gibran pun tak mampu menampung seluruh ekspresi cinta. 

Selalu terasa kurang pas, mungkin karena itu imaniar dalam lagunya menyebutkan kondisi orang  yang  jatuh cinta tetap ibu kan definisi cinta. Seperti makan pun tak enak, tidurku pun tiada nyenyak, selalu teringat oh dirimu.

Beberapa definisi cinta yang dapat saya sebutkan dari berbagai sumber adalah: Kecenderungan seluruh hati yang terus-menerus (kepada yang dicintai). Kesediaan hati menerima segala keinginan orang yang dicintainya.

Kecenderungan sepenuh hati untuk lebih mengutamakan dia dari pada diri dan harta sendiri, seia sekata dengannya baik dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, kemudian merasa bahwa kecintaan tersebut masih kurang. Mengembaranya hati karena mencari yang dicintai sementara lisan senantiasa menyebut-nyebut namanya. Menyibukkan diri untuk mengenang  yang dicintainya dan menghinakan diri kepadanya.

Pendek kata, cinta adalah sebuah kecenderungan rasa untuk mengejar kesenangan yang kekal di dalam hati. Tanda-tanda bahwa kita mencintai sesuatu atau seseorang itu menurut imam ibnu qayyim adalah pertama menyenangi atau mencintai apa yang dicintai oleh kekasih, kedua bersiap dan rela untuk melakukan sebuah pengorbanan, dan selalu mendahulukan sang kekasih dari pada apapun dalam kondisi bagaimanapun.

Nah jika kita mempunyai tanda-tanda seperti itu berarti kita perlulah dating kedokter cinta, karena telah terkena virus merah jambu.

Dan pertanyaannya mengapa Allah SWT meng “install” kan rasa cinta kedalam diri kita? Salah satunya dikarenakan kecenderungan cinta itu untuk ditujukan kepada Allah SWT. Cinta menurut Ibnu Qayyim, mengharuskan seseorang yang sedang terpanah olehnya untuk mengkhususkan cintanya kepada yang ia cintai. Juga hendaknya ia tidak menyekutukan cintanya terhadap kekasihnya yang lain.

Kata Ibnu Qayyim, "Seseorang tidak membagi-bagi cintanya secara adil." Prinsip ketunggalan cinta ini diterapkan oleh Ibnu Qayyim, hanya kecintaan kepada Allah semata. Ucapannya mengenai hal ini, "Dalam kalbu seseorang tidak mungkin terdapat dua cinta. Demikian halnya dilangit pun tidak terdapat dua Tuhan."

Jadi jelaslah bahwa cinta itu tidak dapat dibagi rata, selalu ada kecenderungan. Karena Allah SWT telah mengatur sedemikian rupa agar kecenderungan cinta itu ditujukan kepada Allah, bukan kepada selain Allah SWT. Sebagaimana dinyatakan dalam QS. At Taubah : 24, yang artinya kurang lebih demikian: "Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, sanak keluarga, harta yang telah kamu usahakan, perniagaan yang kamu takuti kerugiannya dan tempat-tempat tinggal yang kamu sukai, itu semua lebih kamu cintai dari pada Allah, Rasul-Nya serta melaksanakan jihad dijalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan urusan-Nya (azab-Nya). Dan Allah sekali-kali tidak akan menunjuki orang-orang yang fasik."

Karena itulah kecintaan perlulah disandarkan kepada Allah SWT, yang kemudian seperti kita bahas dalam tanda-tanda bahwa kita mencintai Allah adalah jika kita mencintai apa-apa yang dicintai Allah SWT seperti; Qul in kuntum tuhibbunallaha fattabi’uni… "Katakanlah :Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah) niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran : 31)

Rasullullah pun menjelaskan dalam hadist sebagaimana berikut; “Barang siapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, member karena Allah, dan tidak memberi kerana Allah, maka dia berarti telah sempurna imannya” (HR. Abu Dawud)

Oleh karena itu iman yang sempurna adalah bentuk kecintaan terhadap Allah SWT, selain mencintai apa yang dicintai Allah, juga salah satunya melaksanakan aturan NYA dan menjauhi larangan NYA. Untuk memperjelas deskripsi tentang mahabbatullah (cinta Allah) Ibnu Qayyim Al Jauziyah memberikan komentar demikian: “Mahabbatullah ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri dihadapan Dzat yang dicintainya, benteng pelindungnya adalah makrifat kepada-Nya, rantingnya adalah rasa takut kepada siksa-Nya, daun-daunnya adalah rasa malu kepada-Nya, sedangkan air  yang menyuburkannya adalah dzikir kepada-Nya setiap saat.

Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis Qudsi, Allah berfirman: "Siapa yang memusuhi seorang kekasih-Ku, maka sungguh aku menyatakan perang kepadanya. Dan tiada mendekat kepada-Ku seorang hamba-Ku dengan sesuatu yang lebih aku sukai dari pada menjalankan apa-apa yang telah Aku wajibkan atasnya. Dan selalu hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan menambah amal-amal yang sunnah, sehingga Aku kasih padanya, maka apabila Aku telah kasih kepadanya, Aku sebagai pendengar yang ia mendengar dengannya, dan penglihatan yang ia melihat dengannya, dan tangan yang digerakkannya, dan kaki yang ia berjalan dengannya.  Dan bila ia meminta pasti Aku memberinya, dan bila ia memohon perlindungan pasti Aku melindunginya." (HR. Bukhari)

Semoga kita tidak hanya selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT semata tetapi juga lebih dari itu dapat menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah SWT dengan Mahabbatullah (cinta Allah) agar kita pun selalu mendapatkan cinta dan ridho Allah SWT. Aamiin Ya Rabbul Al Amin.

Tidaklah lebih baik dari  yang berbicara ataupun yang mendengarkan, Karena yang lebih baik disisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Billahitaufikwalhidayah,  Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustaz Erick Yusuf: Pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient)       
twitter: @erickyusuf


Sumber :http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/celoteh-kang-erick/

Minggu, 25 Maret 2012

Dakwah di Dunia Maya

Dunia maya kini bukan lagi hanya sekedar media untuk mencari informasi saja, akan tetapi telah berkembang menjadi sebuah komunitas besar yang tidak terbatas. Semua batas seakan dilewati di dunia maya dimana seseorang dapat mengenal orang lain lintas batas negara, geografis, suku, agama dan sebagainya. Dunia maya telah tumbuh menjadi dunia yang membuat seseorang lebih banyak menghabiskan waktu di dalamnya ketimbang hidup di dunia nyata.


Berbicara tentang dunia maya tentu tidak hanya berbicara tentang internet saja, melainkan mobile phone dan mp3/iPod. Perkembangan teknologi yang berpacu setiap harinya memberikan sebuah kesempatan inovasi dakwah bagi para pelaku dakwah di dunia. Ulama berpendapat bahwa teknologi bagai dua mata pedang, dimana dapat menjadi baik bila digunakan oleh seorang yang baik dan dapat menjadi buruk jika digunakan untuk hal yang tidak baik.


Jika anda melakukan pencarian situs di internet, bisa dilihat bahwa situ negatif lebih banyak ketimbang situs Islam. Google bahkan mengeluarkan data bahwa kata kunci yang sering digunakan terbesar di Indonesia adalah kata “porno atau sex”. Data ini tentu menyedihkan bagi kita para pelaku dakwah kampus yang memiliki tanggung jawab untuk membuat perubahan di masyarakat.


Cara untuk melawan fenomena ini bukanlah hanya dengan menuntut pemerintah untuk memblokir situs yang berbau pornografi akan tetapi juga dengan menambah situs yang berisikan nilai Islam. Kuncinya adalah menjadikan pengetahuan dan informasi sebagai kekuatan. Pelaku dakwah masa kini perlu mengadaptasi teknologi dunia maya untuk keperluan dakwah Islam. Dengan itu internet atau dunia maya akan semakin bersih dari kontaminasi situs buruk dan tercerahkan dengan cahaya Islam.

Dakwah di dunia maya memiliki banyak keunggulan yang bisa melengkapi dakwah di dunia nyata, keunggulan tersebut antara lain :

  1. Hemat Biaya
  2. Optimasi Desain Pada Publikasi
  3. Pendekatan Masif
  4. Mudah Digunakan
  5. Penyebaran Cepat dan Bersifat Personal
  6. Menyentuh Objek Dakwah yang Apatis (malas datang ke tempat acara dakwah)


Keunggulan ini seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh LDK dalam mengembangkan dakwahnya di kampus dan mengajak lebih banyak mahasiswa untuk bergabung dalam pembinaan yang telah disiapkan oleh LDK.  Meski demikian bukan berarti dakwah di dunia maya tidak memiliki kekurangan yang perlu diantisipasi oleh para pelaku dakwah, kekurangan dakwah di dunia maya seperti tidak adanya tatap muka yang membuat kita tidak bisa mengetahui dengan presisi ekspresi dari objek dakwah, serta kemungkinan adanya spam atau hacker yang membuat citra dakwah yang dilakukan menjadi rusak. Namun demikian segala kekurangan ini bisa diselesaikan jika di antisipasi sejak awal.


Berikut akan dipaparkan beberapa metode yang bisa dilakukan oleh para aktivis dakwah khususnya di LDK untuk mengembangkan metode dakwah di dunia maya. Keuntungan besar dari dakwah di dunia maya adalah hampir semua fasilitas media yang ada bersifat gratis, sehingga daripada media tersebut digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat, maka lebih baik digunakan untuk kebutuhan dakwah.




Jejaring Sosial

Jejaring sosial di dunia maya semakin pesat perkembangannya, pada akhir bulan Juni 2010 bahkan situs jejaring sosial terbesar facebook telah mengklaim bahwa memiliki 500 juta pengguna yang tersebar di seluruh dunia. Selain itu masih ada pula twitter, plurk atau situs jejaring sosial lama seperti friendster. Penggunaan dari jejaring sosial sederhananya memiliki empat tahapan, yakni :

  1. Perkuat identitas diri
  2. Perbanyak teman/pengikut
  3. Membangun komunitas
  4. Sebar nilai Islam

Tahapan ini berlaku untuk semua jenis jejaring sosial yang ada dan dengan cara sederhana inilah seorang aktivis dakwah bisa melakukan dakwah di depan komputer di rumah masing-masing. Metode dakwah dengan dunia maya khususnya melalui jejaring sosial juga bisa memberikan kesempatan dakwah yang besar bagi para aktivis dakwah yang cenderung introvert atau pemalu. Karena dakwah di dunia maya tidak menuntut seseorang untuk bertatap muka.


Contoh implementasi dengan menggunakan facebook.

Langkah pertama adalah dengan memperkuat identitas diri. Meski di dunia maya anda bisa menjadi siapapun yang anda inginkan bahkan dengan karakter yang bertentangan dengan diri, akan tetapi untuk menjalankan dakwah di dunia maya, anda perlu menjadi sosok dengan karakter yang Islami. Dengan itu teman-teman dunia maya anda akan mengenal anda dengan karakter tersebut. Memperkuat identitas diri ini akan sangat menentukan jenis teman yang mendominasi pertemanan kita di jejaring sosial. Bentuk penguatan identitas diri dapat dilakukan dengan cara penyesuaian foto profil, kata-kata yang terucap di jejaring sosial serta rekam kegiatan yang dilakukan. Sebutlah anda menamakan diri anda aktivis dakwah facebook, dengan foto profil Al Qur’an dan memiliki interest dalam membaca Qur’an, mentoring, dan sebagainya.


Langkah kedua adalah perbanyak teman. Teman pun alangkah baiknya jika dipilih dengan baik agar yang menjadi teman anda dalam situs jejaring sosial adalah mereka yang memang tepat untuk menjadi objek dakwah di dunia maya. Karena anda memiliki kesempatan untuk memilih teman, maka gunakan kesempatan ini agar dakwah anda lebih optimal. Pastikan pula bahwa teman anda adalah orang yang anda kenal untuk memudahkan tindak lanjut. Akan tetapi jika tujuan dari dakwah dunia maya untuk hal yang bersifat masif, maka tidak masalah jika teman anda tidak anda kenal di dunia nyata.


Langkah ketiga adalah dengan membuat komunitas dalam bentuk groups, atau fanpage. Dengan fasilitas ini anda bisa membuat komunitas yang akan menjadi tempat anda menyampaikan syiar Islam dengan terfokus pada teman yang sudah bersedia untuk di dakwahi. Contoh contoh grup yang telah ada seperti “1 juz 1 hari”, “ayo mengaji” atau “perjalanan Qur’an”. LDK sebagai sebuah lembaga juga bisa membuat grup sendiri agar memudahkan syiar yang dilakukan.


Langkah keempat adalah menebar nilai Islam itu sendiri dengan berbagai cara, dari yang sederhana seperti mengubah status dengan kalimat yang baik, menyebar tausiyah panjang melalui pesan yang dikirim secara personal ke setiap teman, maupun dengan men-tag catatan dan foto dengan nilai Islami kepada teman-teman anda.


Dakwah dengan jejaring sosial merupakan sebuah trend baru dalam dunia dakwah kampus. Dengan cara ini pula setiap kader dapat melakukan dakwah secara mandiri di depan komputer masing-masing. Selain itu dakwah dengan jejaring sosial ini memberikan kesempatan kepada para aktivis dakwah untuk belajar menulis dan menginspirasi  dengan kata.


Blog / Website

Blog dan website memiliki keunggulan lain ketimbang jejaring sosial yakni pada kemampuan blog/website untuk bisa masuk dalam search engine sehingga tulisan kita dapat dinikmati tidak hanya dalam waktu pendek akan tetapi dalam jangka waktu yang lama. Dakwah di blog/website bersifat lebih masif walau cenderung tidak personal.


Dakwah dengan blog/website ini membutuhkan keahlian khusus di bidang desain dan menulis panjang. Dari blog/website ini seorang atau kelompok aktivis dakwah kampus dapat menuliskan segala sesuatu dengan bebas dan menjadi bagian dari kontributor opini Islam di dalam persaingan mesin pencarian google, yahoo! atau bing. Pengguna internet bisa mengakses situs yang anda buat hanya dengan mengetk kata kunci tertentu seperti “dakwah”,”Islam” dan sebagainya.


Dakwah dengan blog/website juga memberikan sebuah kesempatan untuk menerbitkan sebuah buku. Pengalaman saya menulis buku selalu bermula dari kumpulan tulisan di blog yang nantinya dikumpulkan dan diedit sesuai kebutuhan untuk nantinya dicetak dalam sebuah buku. Meski demikian, salah satu syarat yang perlu anda pahami bahwa dengan menulis di blog/website, semua tulisan yang anda telah sampaikan telah menjadi milik bersama yang bisa disebar luaskan dan dikembangkan oleh siapapun.


Email / Mailing List

Dakwah dengan email dan mailing list merupakan sebuah cara dakwah di dunia maya yang sederhana dan sangat personal. Anda hanya perlu menyiapkan konten dan menyebarkannya melalui email pribadi atau melalui portal mailing list yang memungkinan disebar kepada kelompok yang lebih besar. Semua ini tergantung bagaimana kebiasaan dari anda maupun kenyamanan dari objek dakwah.

Perhatian yang perlu diberikan adalah dengan menindaklanjuti seseorang yang merespon tulisan anda. Tindak lanjut bisa dilakukan dengan personal melalui diskusi singkat atau mengajak untuk menghadiri acara keIslaman di dunia nyata. Selain itu perhatikan ritme atau tempo mengiriman pesan agar tidak jenuh dan bosan. Kebanyakan aktivis dakwah terlalu bernafsu untuk menyebar tulisan hingga justru membuat tulisannya dihapus bahkan sebelum dibaca oleh objek dakwah.


Layanan SMS/MMS

Dengan persaingan operator yang semakin menghangat, tarif untuk melakukan SMS menjadi sangat murah. Sebagai seorang aktivis dakwah kita bisa memanfaatkan ini dengan seksama melalui pengiriman SMS secara personal kepada banyak orang. Jaringan SMS tausiyah, jaringan SMS tahajud wake up, Jaringan SMS inspirasi dan sebagainya bisa dikembangkan dengan pesat. Meski demikian ada tata cara serta etika yang perlu diperhatikan salah satunya adalah memastikan bahwa orang yang anda SMS adalah mereka yang sudah menyatakan diri siap menerima SMS, jika tidak maka anda hanya akan menganggu kenyamanan seseorang dan berdampak kontraproduktif terhadap dakwah.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyebaran SMS untuk syiar ini antara lain :

  1. Buat mekanisme pendaftaran yang sederhana seperti : sms_nama_no.hp dan dikirim ke nomor tertentu
  2. Tentukan nomor khusus untuk menyebar SMS syiar ini
  3. Tentukan waktu rutin untuk pengiriman, jangan terlalu sering.
  4. Variasikan isi SMS seperti Ayat Al Qur’an, hadis, atau kata bijak
  5. Isi SMS jangan terlalu panjang, maksimal 2 SMS

Dengan memperhatikan hal-hal diatas, diharapkan layanan SMS ini dapat nyaman diterima oleh objek  dakwah dan diresapi isinya dengan baik. SMS ini juga bisa berisi informasi kegiatan yang akan dilakukan oleh LDK untuk proses tindak lanjut dari SMS yang telah diberikan.

Sebagai seorang aktivis dakwah kampus tentunya penggunaan media dunia maya ini bukan hal yang asing. Justru menjadi sebuah tanggung jawab bagi seorang aktivis dakwah kampus untuk bisa menyediakan waktunya dalam berkontribusi di dakwah dunia maya. LDK bisa saja mengeluarkan kebijakan kepada para kadernya untuk diwajibkan menyediakan waktunya untuk dakwah di dunia maya. Sehingga dakwah kian terasa di dunia nyata dan dunia maya.

Sumber: buku "Analisis Instan Problematika Dakwah Kampus"

Sabtu, 24 Maret 2012

Parameter Keberhasilan Syiar

Apa saja yang menjadi parameter untuk menilai syiar yang dilakukan telah berlangsung dengan baik ?


Mulai saat ini kita akan memulai segala sesuatu dengan parameter keberhasilan untuk mengukur sejauh mana agenda yang telah dilakukan memenuhi target yang dibutuhkan. Parameter keberhasilan ini adalah turunan atau pengewejantahan dari strategi dan program yang akan dijalankan. Dalam kontek dakwah kampus yang profeional parameter keberhasilan adalah sebuah input yang sangat penting dalam evaluasi dakwah kedepannya. Parameter ini perlu didukung dengan indikasi tertentu untuk mempermudahkan menilaian. 


Syiar adalah proses menyampaikan risalah Islam kepada umat dengan metode yang tepat. Berbagai agenda syiar yang kita kenal seperti talkshow, outbound, camping, wisata rohani, bakti sosial, dan sebagainya telah banyak kita jalankan. Akan tetapi, pada beberapa kampus saya mengamati agenda syiar setiap tahunnya tidak jauh berbeda, bahkan, sama lebih tepatnya. Ini menandakan tidak ada proses evaluasi yang dijalankan setiap tahunnya dan menyebabkan lembaga dakwah tidak hayawi (baca: dinamis).

Dalam menentukan parameter keberhasilan syiar ada point of view yang bisa diamati. Pertama dari sisi samawi, dan yang kedua dari sisi ardhi.




Samawi Point of View

Ini merupakan pola pandang dari sisi fana. Yakni tidak bisa dilihat langsung oleh kasat mata. Hanya Anda sebagai pribadi dan Allah yang bisa menilai apakah parameter ini sudah terpenuhi atau belum. Poin turunan dari pola pandang ini ada dua, yakni ;


a. Kedekatan kader ( subjek dakwah ) kepada Allah, Anda coba evaluasi diri dan minta kader Anda untuk mengevaluasi diri apakah setelah menjalankan sebuah agenda dakwah. Ia semakin dekat dengan Allah, apakah keyakinannya pada Islam meningkat, apakah ibadah hariannya semakin berkualitas dan semakin mendekati seorang yang berjiwa rabbani. Walau hal ini tidak bisa dinilai langsung, akan tetapi faktor kedekatan kader pada Allah adalah syarat mutlak keberhasilan dakwah dan kemudahan pertolongan Allah dalam perjuangan dakwah kita semua. Oleh karena itu perlu kiranya seorang pemimpin selalu mengingatkan kadernya untuk selalu menjaga niat karena Allah dan menjaga kualitas ibadahnya.


b. Tercerahkannya objek dakwah. Tercerahkan dalam hal ini adanya perubahan secara individu dari objek dakwah. Perubahan ini tidak bisa dievaluasi langsung, dan bukan sekedar berapa banyak yang hadir dalam sebuah agenda dakwah. Akan tetapi perubahan yang terjadi, seperti seorang yang tidak pernah sholat, setelah mengikuti sebuah kajian, ia menjadi rutin sholat, atau seorang yang biasanya tidak pernah puasa di bulan Ramadhan berubah menjadi menjalankan puasa Ramadhan. Ini yang saya maksud dengan tercerahkan.


Ardhiy point of view

Ini adalah pola pandang dari sisi duniawi, yang bisa dilihat dengan kasat mata, dan lebih mudah untuk di evaluasi. Pada pola pandang ini lebih menekankan pada kualitas manajemen organisasi dakwah. Pola pandang ini merupakan pola pandang yang dirumuskan oleh Kepala Sektor Syiar dan Pelayanan Kampus GAMAIS ITB Albaz Rosada. Pola pandang yang digunakan yakni ;


a. Cash flow. Dalam perencanaan keuangan pada agenda syiar haruslah berpegang pada nilai balance cashflow atau bahkan surplus cashflow. Pendanaan yang baik akan membuat syiar kita tidak terkesan dipaksakan dan bisa optimal. Syiar yang baik tidaklah harus mahal. Akan tetapi cocok dan sesuai dengan kebutuhan objek dakwah. disinilah perencanaan syiar harus memikirkan dana, jangan sampai dana yang ada terlalu besar. Walau memang dengan rencana anggaran yang besar, bisa menjadikan kader dakwah kreatif dalam menggalang dana. Sebuah lembaga dakwah kampus seharusnya bisa menghasilkan uang dalam jumlah besar. kebebasan finansial membuat sebuah Lembaga dakwah bisa mandiri serta independen dari semua pihak. Jika memungkinkan dibangun sebuah paradigma bahwa event syiar bukanlah momen untuk menghabiskan uang, akan tetapi sebagai momen untuk menghasilkan uang. Kita bisa menggunakan perangkat pendukung akuntansi untuk memudahkan pembukuan anggaran.



b. Appreciation. Maksudnya adalah tanggapan atau respon dari semua stakeholder yang terkait dengan agenda yang di adakan. Apresiasi pertama tentu dilihat dari perserta atau objek dri agenda yang dibuat. Apakah mereka puas dan senang dengan agenda yang disusun. karena tujuan syiar ini adalah mentransformasi objek dakwah yang masi belum tau menjadi tau. Penilaian termudah dalam melihat apresiasi adalah dengan adanya orang-orang yang tergabung dalam simpatisan dakwah. dalam hal ini peran data sangat penting untuk di gunakan dan berdungsi dalam melihat evaluasi agenda dakwah. Stake holder lainnya seperti pengisi acara, pihak yang diajak kerjasama dana, donatur, dan sebagainya. Apresiasi dari mereka sangat penting karena tanpa mereka agenda dakwah ini tidaklah akan berjalan dengan lancar. Perangkat untuk menilai hal ini dengan observasi langsung saja terhadap stakeholder terkait.



c. Participation. Partisipasi dari massa kampus atau objek dakwah akan agenda kita, bisa dilihat dari cara mereka merespon dan mendukung agenda kita. Apakah hanya sebagai pengunjung atau juga memberikan dukungan lainnya, ataukah ada kesediaan untuk mengikuti pembinaan dari lembaga dakwah. Perangkat angket atau kuesioner bisa digunakan untuk menilai partisipasi massa sudah optimal.



d. Value. Selalu ada pemikiran yang akan disampaikan dalam setiap syiar kita. Penyebaran pemikiran risalah Islam ini menjadi sebuah misi dalam dakwah kita. Selain itu nilai yang kita maksudkan sejatinya bisa menjadi corong opini dan mengubah pola pikir dari objek dakwah kita. Dengan selalu berpegang pada value yang akan disampaikan, dakwah ini akan senantiasa selalu pada asholahnya. Pentingnya penentuan value juga harus diperhatikan. Jangan sampai nilai atau pesan yang disampaikan kontraproduktif, karena tidak sesuai dengan kebutuhan objek dakwah. Perangkat angket bisa menilai apakah objek dakwah sudah mendapatkan pesan yang ingin kita sampaikan.



e. Documentation. Dokumentasi menjadi hal yang sangat mahal. kebiasaan diantara kita semua dokumentasi seringkali terlupakan. sehingga tidak ada hal yang bisa diturunkan ke penerus kita di lembaga dakwah. Ada dua hal yang haru terdokumentasi dengan baik. pertama dokumentasi data seperti notulensi rapat,proposal, ide-ide, dan lain-lain. Kedua dokumentasi foto dan film kegiatan. penyimpanan data ini juga harus terorganisir dengan baik sehingga bisa jadi warisan penting bagi penerus dakwah kita di masa yang akan datang. Perangkat pendukung bisa dengan sebuah database yang dikoordinir oleh tim data lembaga dakwah.

Sumber : buku  "Analisis Instan Problematika Dakwah Kampus"

Jumat, 23 Maret 2012

Awas Degradasi Ruhiyah

Anda seorang aktifis dakwah? Waspadailah jika salah satu dari sepuluh hal berikut menimpa Anda, karena ia mengindikasikan terjadinya degradasi ruhiyah.

1. Dusta
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin tak mungkin menjadi pembohong. Jika aktifis dakwah mulai berani berbohong, saat itulah indikasi degradasi ruhiyah terjadi.

Kadang kebohongan terjadi pada saat seseorang terjepit atau ingin mengais keuntungan tertentu. Misalnya untuk mendapatkan “pembenaran” atas ketidaksertaannya dalam aktifitas dakwah yang berat, yang sebenarnya ia tak memiliki alasan untuk meninggalkannya kecuali sikap malas. Di zaman Rasulullah, ini pernah terjadi pada perang Tabuk. Di mana kaum munafikin yang tidak ikut berangkat perang membohongi Rasulullah dengan berbagai alasan saat beliau kembali di Madinah; agar keabsenannya dimaklumi dan dimaafkan.

Kebohongan juga bisa terjadi pada saat munculnya momentum yang memberikan peluang keuntungan besar melalui kebohongan. Yang jika ia jujur, menurut pertimbangannya, peluang itu akan lewat begitu saja. Ingatlah, bahwa tujuan yang baik harus dicapai dengan cara yang baik.

2. Tak memenuhi janji
Berhati-hatilah jika Anda tidak memenuhi janji untuk menjalankan kewajiban dakwah yang telah Anda sepakati. Atau Anda mulai “toleran” dengan keterlambatan menghadiri forum-forum dakwah pekanan dan sebagainya. Kita patut waspada bahwa itu merupakan ingkar janji yang termasuk tanda-tanda kemunafikan, di mana saat itu terjadi degradasi ruhiyah dan keimanan.

“Ada tiga tanda kemunafikan,” sabda Rasulullah dalam riwayat Al Bukhari, “yaitu bila bicara ia dusta, bila berjanji ia ingkar, dan bila diberi amanah ia berkhianat.”

3. Mengkhianati amanah
Tiga hal pertama, termasuk mengkhianati amanah ini juga merupakan tanda kemunafikan seperti disebutkan dalam terjemah hadits di atas. Sekecil apapun amanah yang diembankan kepada Anda, termasuk amanah kepanitiaan, amanah di wajihah, amanah di struktur dakwah; pada saat Anda menyia-nyiakannya, tidak mau menunaikannya, itu merupakan indikasi degradasi ruhiyah. Perlu sebuah introspeksi mengapa kita tak mau menunaikan amanah yang sudah kita terima; apakah kita menerima amanah karena Allah, atau karena mengincar tujuan duniawi? Jika karena Allah, bangkitlah! Jangan biarkan degradasi ruhiyah berkelanjutan dan menggerogoti keimanan.

4. Takut berjuang dan berdakwah
Ini juga tanda degradasi ruhiyah. Jika Anda tak lagi berani bergerak, berharakah, berjuang mendakwahkan Islam; ketahuilah bahwa saat itu sedang terjadi degradasi ruhiyah. Kembalilah kepada keyakinan yang benar bahwa rezeki ditentukan Allah dan masa depan dalam genggaman Allah.

Mengapa takut lingkungan membenci Anda jika Anda sedang bergerak meraih ridha Allah dan cinta-Nya? Perusahaan mungkin bisa memecat Anda karena aktif berdakwah, tetapi ia takkan melakukannya selama Anda tetap profesional dalam bekerja. Lebih dari itu, tak seorang pun bisa menghalangi Anda dari rezeki yang lebih besar yang sudah Allah siapkan.

“Barangsiapa yang tidak berjihad dan tidak meniatkan dalam hatinya untuk melakukannya, ia membawa satu cabang kemunafikan pada kematiannya.” (HR. Muslim)

5. Su’udhan (Buruk Sangka)
Di saat Anda berprasangka buruk terhadap sesama aktifis dakwah yang berubah menjadi kaya, khawatirlah bahwa degradasi ruhiyah sedang melanda. Aktifis dakwah yang menjadi kaya setelah mendapatkan jabatan publik memang menimbulkan godaan untuk berburuk sangka. Tapi itulah cara syetan menyerang, padahal kita tak pernah tahu bahwa pada saat yang sama usaha atau bisnis aktifis dakwah itu berhasil setelah bertahun-tahun sebelumnya ia rintis dan ia kembangkan.

Kadang buruk sangka juga menjadikan qiyadah dakwah sebagai sasarannya. Bahkan pada kisah haditsul ifki kita bisa mengambil ibrah betapa pemimpin terbaik seperti Rasulullah pun, keluarganya pernah menjadi sasaran buruk sangka sebagian orang.

“Hindarilah oleh kalian prasangka,” sabda Rasulullah dalam riwayat Muslim, “karena itu seburuk-buruknya perkataan.”

6. Ghibah
Tanda degradasi ruhiyah berikutnya adalah ghibah. Yakni ketika seorang aktifis dakwah membincangkan hal-hal yang tak disukai seadainya didengar oleh orang yang dibincangkan. Ghibah juga menjadi tanda memudarnya ukhuwah sehingga ketika ada kelemahan, kekurangan atau kesalahan aktifis dakwah, yang bersangkutan tidak diingatkan dan dikoreksi, malah aibnya disebarkan.

“Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al Hujurat : 12)

7. Hasad (dengki)
Hasad kepada sesama aktifis dakwah umumnya sulit ditemui pada fase awal atau perintisan dakwah. Di masa-masa sulit seperti itu, ketika semua aktifis dakwah berjuang “mati-matian” dalam kesulitan, hasad adalah penyakit hati yang sangat langka.

Namun, seiring dengan kemajuan dakwah, terbukanya kesempatan, dan teraksesnya kekuasaan, hasad bisa menjadi ancaman. Nah, aktifis dakwah yang tidak suka dengan kemajuan saudaranya, kesuksesannya, jabatannya, kekuasaannya, lalu berupaya menghilangkan nikmat itu; itulah hasad yang menjadi tanda degradasi ruhiyah. Bahkan saat ketidaksukaan muncul saja, hanya karena alasan dunia –mengapa dia dan bukan saya- itu saja sudah sangat mengkhawatirkan bahwa keruntuhan ruhiyah kita sedang berjalan.

8. Sering lalai dan mencari-cari alasan
Lalai terhadap komitmen amal ibadah yaumiyahnya, lalai terhadap amanahnya, lalai syura dakwahnya, lalai agenda pekanannya, lalu berupaya mencari alasan pembenar agar bisa disebut udzur adalah bagian dari tanda degradasi ruhiyah. Demikian pula saat aktifis dakwah mencari-cari celah atau menabrak hal-hal makruh dan syubhat sehingga akhirnya terjerembab dalam dosa dan pelanggaran.

“Seorang hamba takkan mencapai derajat ketaqwaan, sehingga ia meninggalkan perkara mubah baginya karena khawatir terjerumus masalah yang mengandung dosa.” (HR. Tirmidzi)

9. Suka popularitas, tak semangat dalam amal rahasia
Di saat mihwar dakwah telah sampai pada mihwar muasasi, gerbang amal amah terbuka gegap gempita. Banyak peluang popularitas di sana, banyak kemasyhuran menanti pelakunya. Jika pada saat seperti ini agenda dakwah khas dinomorduakan, tak ada gairah dan semangat menempuhnya, ketahuilah bahwa itu bagian dari riya’ yang menunjukkan degradasi ruhiyah kita.

10. Menjauhi syura
Jika Anda tak lagi menyukai syura, ingin menghasilkan keputusan dakwah sendiri, ingin mengambil kebijakan sendiri, sangat boleh jadi saat itu ruhiyah sedang melemah. Sebab ia hanya bermuara pada dua hal; pertama, menganggap orang lain dan jamaah dakwah tidak lebih baik dan lebih pintar dari Anda. Artinya ujub dan takabur tengah menjangkiti. Kedua, timbul keinginan untuk “berkuasa” diantaranya dengan bebas menentukan segalanya, termasuk menentukan arah dakwah demi kepentingan pribadi.

Syura adalah prinsip dalam amal jamai dan harus selalu ditegakkan dalam semua marhalah yang dilalui. 

“..sedang urusan mereka (diputuskan) dengan syura diantara mereka...” (QS. Asy Syura : 38). 

Sumber: http://www.bersamadakwah.com

Sabtu, 17 Maret 2012

Menjaga Kualitas Kader


Fenomena yang terjadi di kampus kami beberapa tahun belakangan ini adalah menurunya kualitas dari kader dakwah, bagaimana upaya dan pendekatan yang perlu kami lakukan agar dapat terus menjaga kualitas kader setiap tahunnya ?
Jika Anda merasa bahwa fenomena ini terjadi pada kampus Anda saja, jangan khawatir, karena fenomena ini terjadi hampir di seluruh kampus di Indonesia. Akan tetapi saya selalu mencoba melihat dari sudut pandang lain terkait menurunnya kualitas kader. Sejatinya saya melihat bahwa kualitas kader tidak menurun, yang terjadi adalah semakin banyaknya jumlah kader yang bergabung dalam dakwah, dan konsekuensi dari jumlah yang besar adalah kualitas yang belum tentu merata, apalagi jika pola manajemen kaderisasi belum rapih dan berkelanjutan.
Kader adalah aset yang sangat berharga untuk lembaga dakwah, karena kaderlah yang akan menggerakkan dan mengembangkan dakwah yang ada. Seringkali kita mendapat sebuah pertanyaan, mana yang lebih penting antara sistem dan kader. Seorang yang berpikir pendek akan mengatakan bahwa kader lebih penting, sedangkan untuk mewujudkan dakwah yang berkelanjutan, maka sistem yang menunjang untuk membentuk kader yang dengan kualitas baik adalah hal yang perlu dicapai.
Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang ada dengan memaparkan kebutuhan apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang kader dan metode apa yang tepat untuk memenuhi kebutuhan ini. Seorang kader yang berkualitas adalah seorang kader yang menguasai teori, memiliki maknawiyah yang stabil,serta memahami medan amal dakwah dengan baik. Ketika seorang kader mampu dibina untuk memiliki hal-hal ini maka ia akan memiliki immune terhadap segala tantangan dakwah. Oleh karena itu, sebagai tim kaderisasi yang akan menjalankan pembinaan ke kader, pemberian pemahaman serta latihan untuk memenuhi 3 hal ini adalah sebuah cara yang baik untuk senantiasa menjaga kualitas kader dakwah kampus.
Menguasai Teori
Landasan awal dari menjalankan segala sesuatu adalah pemahaman terhadap apa yang akan dilakukan. Dalam konteks seorang kader sebagai individu, diharapkan ia dapat memahami dasar yang bisa menguatkan dirinya dalam berIslam dan alasan yang hakiki mengapa ia melakukan aktifitas dakwah. Adanya pemahaman dasar ini akan menentukan kebijaksanaan pribadi serta semangat geraknya. Biasanya permasalahan kader seperti masalah kejenuhan dalam berdakwah, virus merah jambu, kekecewaan terhadap dakwah atau jamaah dakwah. Metode yang tepat untuk menyampaikan teori adalah dengan bentuk ta’lim dengan seorang yang memahami dengan komprehensif materi, bentuk metode tambahan lainnya dapat di sampaikan dalam pembinaan rutin seperti mentoring. Hal-hal yang kiranya perlu disampaikan sebagai bekal bagi kader antara lain ;
1. Memahami Prinsip Islam
Seorang kader diharapkan dapat memahami dasar-dasar yang sangat mendasar dari Islam itu sendiri. Bermula dari memahamkan makna dan urgensi syahadat sebagai pintu gerbang umat Islam. Mengenal Allah sebagai rabb dengan segala sifa-sifatnya, mengenal Rasul untuk diteladani, dan Al Qur’an sebagai pedoman hidup. Seorang kader dengan prinsip yang kuat akan berdampak pada militansi yang kuat pula, dan kelompok kader dengan prinsip yang kuat akan berdampak menjadi kelompok yang solid. Selain itu, keikhlasan dalam menjalankan agenda dakwah yang ada hanya untuk Allah semata dapat dibangun dengan dasar prinsip Islam yang kuat.
Sebagai seorang da’i yang akan menyampaikan nilai-nilai Islam tentu membutuhkan Ilmu untuk disampaikan , biasanya untuk dakwah kampus, diskusi tentang agama cukup banyak sekitar masalah aqidah dan alasan mengapa kita harus berIslam. Tentu, kita sangat berharap kader dakwah kampus bisa menjadi perpustakaan berjalan untuk menanyakan hal-hal terkait keIslaman. Terkadang pula, massa kampus menilai dan mengikuti bagaimana berIslam dengan mencontoh dari apa yang dilihat dan didengar dari pada kader dakwah kampus.
2. Memahami Pedoman Islam
Dua pedoman utama dan hakiki seorang muslim dalam menjalankan hidupnya adalah Al Qur’an dan Al Hadits. Seorang kader diharapkan dapat memahami kedua pedoman ini dengan baik, metode yang sering dilakukan untuk meningkatkan kepahaman ini adalah dengan tahsinatau belajar bagaimana membaca Al Qur’an dengan tajwid yang benar, tahfidz atau belajar untuk menghafal Al Qur’an, dan tastqif atau kajian Al Qur’an dan Al Hadits untuk lebih memahamkan makna yang lebih mendalam dari dua pedoman ini. Seorang kader dakwah dituntut untuk selalu dekat dengan Al Qur’an, karena kedekatan dan banyaknya interaksi seorang kader dengan pedoman Islam ini akan berdampak positif pada beberapa hal, yakni ; (1) keberkahan dakwah, (2) kualitas maknawiyah kader, (3) kemampuan meyakinkan dan mempengaruhi seorang kader dakwah, (4) penjagaan asholah dakwah, dan (5) membangung kebiasaan untuk selalu berlandasakn syar’i dalam setiap kebijakan yang ada.
3. Memahami Fikroh Dakwah dan Amal Jama’i
Sebuah pertanyaan yang harus dapat dijawab seorang kader sebelum berdakwah adalah “mengapa saya harus berdakwah ?”. Seorang kader diharapkan dapat memahami landasan mengapa seorang muslim harus berdakwah dan mengapa cara yang digunakan di lembaga dakwah sebagai metode dakwah yang digunakan. Ia juga diharapkan mampu melihat visi besar dakwah jangka panjang. Pemahaman terhadap pemikiran dakwah yang dilakukan diharapkan dapat membangun paradigma bahwa apapun tanggung jawab yang diberikan pemimpin kepada dirinya adalah bagian dari menjalankan agenda dakwah yang sudah Allah amanahkan kepada seluruh manusia.
Terkait pada amal jama’i atau beramal bersama, karena dakwah yang dilakukan dalam lembaga dakwah bersama-sama, seorang kader juga perlu diberi pengertian tentang prinsip al qiyadah wal jundiyah ( pemimpin dan pasukan ), agar ia mampu memerankan dengan baik jika ia menjadi pemimpin maupun pasukan. Karena memang pada dasarnya seorang kader akan menjadi seorang pemimpin atau yang dipimpin. Bentuk penaman kemampuan ini bisa dengan melibatkan langsung dalam organisasi, latihan beramal agar ia memahami hal ini dengan pengalaman yang ia dapat.
Memiliki maknawiyah yang kuat
Kedekatan kader terhadap Allah adalah bahan bakar utama dalam menjalankan amanah dakwah yang ada. Apalagi dalam setiap hal yang kita lakukan, pertolongan Allah adalah suatu yang menjadi faktor sukses, dan pertolongan Allah hanya diberikan kepada umatnya yang berusaha dan berdo’a secara seimbang. Maknawiyah disini dapat dilatih dengan ibadah-ibadah mahdah yang dilakukan secara individu. Sebutlah, Shalat wajib, Shalat Sunnah, Puasa Sunnah, Qiyamulail, dan sebagainya. Untuk memicu dan membiasakan ibadah-ibadah ini biasanya dapat menggunakan perangkat mutabaah amalan yaumiyah ( pengecekkan amal ibadah harian ) yang diberikan kepada seluruh kader. Tentunya juga di awali dengan pemahaman tentang ibadah mahdah dan tata cara untuk melaksanakannya. Ketika seorang kader memiliki maknawiyah yang kuat maka ia akan memiliki tekad dan kemauan yang kuat dalam menjalankan amanah dakwah, karena ia memandang dakwah sebagai bagian dari hidupnya dan ia memahami bahwa surga hanya bisa ditebus dengan usaha yang kuat, salah satunya dengan menyampaikan risalah Islam kepada masyarakat luas. selain itu seorang yang maknawiyahyang kuat akan berdampak pada loyalitas atau kesetiaan yang kuat kepada jamaah dakwah yang ada. Ia memandang apa yang ia lakukan dalam dakwah hanya untuk Allah semata, ia siap menaati dan siap melayani segala kebutuhan dakwah, ia siap memimpin dan dipimpin, dan ia bukanlah melakukan aktifitas ini untuk manusia, sehingga ketika salah seorang kader lain menyinggung atau mengecewakan dirinya, itu tidak jadi alasan baginya untuk kecewa atau mundur dari dakwah. Selama lembaga dakwah masih berorientasi rabbaniyah maka ia akan terus bergabung dan berjuang bersama.
Memahami Amal Dakwah
Kader dalam menjalankan agenda dakwah memerlukan strategi dengan baik, serta memahami apa yang sedang ia lakukan dan apa manfaatnya untuk dakwah. Beberapa hal yang perlu dipahami terkait amal dakwah antara lain ; (1) memahami tujuan dakwah, (2) memahami peran dirinya dalam dakwah, (3) memahami potensi diri, (4) memahami medan dakwah ( objek dakwah ), dan (5) memahami makna pengorbanan dan kesungguhan dalam beramal. Kelima pemahaman terkait amal dakwah ini bisa dibangun dengan latihan langsung beramal dakwah serta di stimulus dengan kaderisasi pasif kepada kader dakwah. Kader dakwah yang memiliki pemahaman yang baik terkait amal dakwah biasanya memiliki visi besar terhadap dakwah itu sendiri, ia punya cita-cita terhadap dakwah, ia punya orientasi dan visi yang jelas terhadap tanggung jawab yang di embannya saat ini dan memberikan dampak semangat yang gigih untuk mencapai tujuan yang ia dan lembaga dakwha harapkan.
Seorang kader yang sudah memahami urgensi dakwah dan mengetahui visi dakwah jangka panjang, akan mempunyai energi lebih untuk bergerak secara trus menerus dalam mewujudkan cita-cita mulia ini. Selain itu ia memiliki semangat pengorbanan, baik itu korban harta, waktu, perasaan, bahkan berkorban hak dirinya seperti waktu istirahat karena ingin memberikan yang terbaik untuk dakwah.
Kualitas kader dakwah saat ini, walau semakin banyak jumlahnya harus tetap dijaga, karena kualitas kader dakwah ini akan membuat kualitas serta asholah dakwah tetap terjaga. Menjadi tanggung jawab bagi kita yang memahami urgensi menjaga kualitas kader ini untuk membangun sistem yang memungkinkan membentuk kader yang berkualitas meskipun jumlah kader semakin banyak bertambah setiap tahunnya.


Sumber: "Analisis Instan Problematika Dakwah Kampus"

Slide Kami